sosmed-whatsapp-green Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Tidak puasa Tarwiyah tetap bisa puasa Arafah? Menjelang datangnya Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, umat Islam di berbagai daerah mulai mempersiapkan diri untuk memperbanyak ibadah dan amalan sunnah pada bulan Zulhijah.

Bulan yang termasuk salah satu bulan mulia dalam kalender Islam ini dikenal memiliki banyak keutamaan, terutama pada sepuluh hari pertama Zulhijah yang dianjurkan untuk diisi dengan berbagai amal saleh seperti puasa, sedekah, dzikir, hingga memperbanyak doa.

Di antara amalan sunnah yang paling banyak dikerjakan umat Muslim pada awal Zulhijah ialah puasa Tarwiyah dan puasa Arafah.

Kedua puasa ini rutin dilaksanakan setiap tahun menjelang Hari Raya Iduladha karena dipercaya memiliki pahala dan keutamaan besar di sisi Allah SWT.

Tidak Puasa Tarwiyah Tetap Bisa Puasa Arafah?

Puasa Tarwiyah dilaksanakan pada tanggal 8 Zulhijah, sedangkan puasa Arafah dilakukan pada tanggal 9 Zulhijah atau sehari sebelum Iduladha.

Meski sama-sama dikerjakan pada bulan Zulhijah, keduanya memiliki kedudukan dan keutamaan yang berbeda dalam ajaran Islam.

Namun dalam praktiknya, tidak semua umat Muslim dapat menjalankan dua puasa sunnah tersebut secara berurutan.

Sebagian orang terkendala aktivitas pekerjaan, kondisi kesehatan, perjalanan, atau baru memiliki kesempatan berpuasa saat memasuki tanggal 9 Zulhijah.

Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, apakah seseorang tetap boleh menjalankan puasa Arafah meski sebelumnya tidak melaksanakan puasa Tarwiyah?

Para ulama menjelaskan bahwa umat Islam tetap diperbolehkan melaksanakan puasa Arafah walaupun tidak menjalankan puasa Tarwiyah terlebih dahulu.

Sebab, puasa Tarwiyah dan puasa Arafah merupakan ibadah sunnah yang tidak bersifat wajib sehingga tidak ada ketentuan harus dilakukan secara berurutan.

Puasa Arafah tetap sah dan dapat dikerjakan meski seseorang tidak berpuasa pada tanggal 8 Zulhijah.

Bahkan, puasa Arafah disebut memiliki dasar hadis yang lebih kuat dibanding puasa Tarwiyah.

Dalam sejumlah riwayat, puasa Tarwiyah memang dikenal luas dan banyak diamalkan umat Muslim.

Akan tetapi, sebagian ulama menilai hadis khusus yang menjelaskan keutamaannya memiliki derajat yang tidak sekuat hadis mengenai puasa Arafah.

Meski demikian, umat Islam tetap dianjurkan memperbanyak amal saleh pada awal Zulhijah, termasuk berpuasa.

Anjuran tersebut merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang menyebut bahwa beliau biasa melaksanakan puasa pada sembilan hari pertama Zulhijah.

Dalam hadis riwayat Abu Daud disebutkan:

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa berpuasa pada sembilan hari pertama Zulhijah, hari Asyura, dan tiga hari setiap bulannya.” (HR Abu Daud No. 2437)

Hadis tersebut menjadi salah satu dasar anjuran menjalankan puasa sunnah di awal bulan Zulhijah, termasuk puasa Tarwiyah dan Arafah.

Sementara itu, puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar bagi umat Muslim yang tidak sedang menunaikan ibadah haji.

Puasa ini dilakukan bertepatan dengan wukuf jamaah haji di Padang Arafah, Arab Saudi.

Keutamaan Puasa Arafah

Keutamaan puasa Arafah dijelaskan dalam hadis riwayat Muslim berikut:

“Puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.” (HR Muslim No. 1162)

Hadis tersebut menunjukkan betapa besar pahala puasa Arafah. Para ulama menjelaskan bahwa dosa yang dimaksud ialah dosa-dosa kecil, sementara dosa besar tetap memerlukan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah SWT.

Karena memiliki keutamaan luar biasa, umat Islam sangat dianjurkan untuk tidak melewatkan puasa Arafah meski sebelumnya tidak menjalankan puasa Tarwiyah.

Selain menjadi sarana penghapus dosa, hari Arafah juga dikenal sebagai hari penuh keberkahan dan kemuliaan.

Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan bahwa tidak ada hari di mana Allah SWT lebih banyak membebaskan hamba-Nya dari api neraka selain pada hari Arafah.

Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak ada hari ketika Allah membebaskan hamba dari api neraka lebih banyak daripada hari Arafah.” (HR Muslim)

Keutamaan lain dari hari Arafah ialah menjadi waktu terbaik untuk memanjatkan doa. Banyak umat Muslim memanfaatkan momen tersebut untuk memperbanyak dzikir, istighfar, doa, membaca Al-Qur’an, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arafah.” (HR Tirmidzi)

Karena itu, hari Arafah menjadi momentum istimewa bagi umat Islam untuk memohon ampunan, keberkahan hidup, kesehatan, rezeki, hingga keselamatan dunia dan akhirat.

Manfaat Puasa Arafah

Selain aspek spiritual, puasa Arafah juga memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh apabila dijalankan dengan baik dan seimbang.

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa puasa dapat membantu proses detoksifikasi tubuh, menjaga pola makan, dan meningkatkan kedisiplinan diri.

Meski demikian, umat Muslim yang memiliki kondisi kesehatan tertentu tetap dianjurkan menyesuaikan kemampuan fisiknya dan berkonsultasi dengan tenaga medis apabila diperlukan.

Pada dasarnya, Islam memberikan kemudahan kepada umatnya dalam menjalankan ibadah.

Karena itu, seseorang yang tidak mampu menjalankan puasa Tarwiyah tidak perlu merasa khawatir atau terbebani karena masih bisa mendapatkan keutamaan besar melalui puasa Arafah.

Ulama juga mengingatkan bahwa kualitas ibadah tidak hanya dilihat dari banyaknya amalan, tetapi juga dari keikhlasan dan kesungguhan hati dalam menjalankannya.

Dengan demikian, umat Islam tetap dapat menjalankan puasa Arafah meski tidak melaksanakan puasa Tarwiyah terlebih dahulu.

Puasa tersebut tetap sah, dianjurkan, dan memiliki pahala besar sebagaimana dijelaskan dalam berbagai hadis Rasulullah SAW.

Momentum bulan Zulhijah pun menjadi kesempatan bagi umat Muslim untuk memperbanyak amal saleh dan mendekatkan diri kepada Allah SWT menjelang Hari Raya Iduladha.