Bank Indonesia Ungkap Dampak Kenaikan Harga Pertamax Terhadap Inflasi, Kontribusi Diperkirakan 0,25 Persen!
HAIJAKARTA.ID- Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, khususnya Pertamax, berpotensi memberikan tekanan terhadap laju inflasi nasional.
Meski demikian, otoritas moneter memastikan dampak yang ditimbulkan masih berada dalam batas yang terkendali dan tidak akan mengganggu target inflasi yang telah ditetapkan pemerintah.
Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan sementara, penyesuaian harga BBM nonsubsidi diperkirakan hanya memberikan kontribusi sekitar 0,25 persen terhadap tingkat inflasi nasional.
“Dampak langsung dari perubahan harga BBM nonsubsidi relatif terbatas dan berdasarkan estimasi kami berkontribusi sekitar 0,25 persen terhadap inflasi,” ujar Aida dalam konferensi pers yang digelar usai Rapat Dewan Gubernur BI.
Kenaikan Harga Energi Jadi Perhatian
Bank Indonesia menilai tekanan inflasi saat ini lebih banyak dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama perkembangan harga minyak dunia yang masih berfluktuasi.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi dalam beberapa waktu terakhir.
Aida menjelaskan bahwa perubahan harga energi akan tercermin pada kelompok administered prices atau komponen harga yang diatur pemerintah. Dalam penyesuaian terbaru, tidak semua jenis BBM mengalami kenaikan.
Pertamax menjadi salah satu produk yang mengalami kenaikan harga, sementara sejumlah jenis BBM lainnya seperti Dexlite dan Pertamina Dex justru mengalami penurunan harga.
Oleh karena itu, dampak keseluruhannya terhadap inflasi dinilai tidak terlalu besar.
Ancaman El Nino Ikut Dipantau
Selain faktor energi, BI juga terus mencermati potensi kenaikan harga dari kelompok pangan bergejolak (volatile food).
Risiko tersebut berkaitan dengan kemungkinan munculnya fenomena El Nino yang dapat memengaruhi produktivitas sektor pertanian pada semester kedua tahun 2026.
Menurut BI, dampak perubahan cuaca diperkirakan mulai terasa pada akhir Juni hingga memasuki Oktober atau November mendatang.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu produksi sejumlah komoditas pangan dan memicu kenaikan harga di tingkat konsumen.
Meski demikian, pemerintah bersama berbagai pemangku kepentingan telah menyiapkan langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas pasokan dan mengendalikan gejolak harga pangan.
Harga Pupuk Dinilai Masih Terkendali
Bank Indonesia juga menyoroti perkembangan harga pupuk yang selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam biaya produksi pertanian.
Namun hingga saat ini, risiko kenaikan harga pupuk dinilai masih dapat dikendalikan.
Kapasitas produksi pupuk nasional yang memadai dianggap mampu memenuhi kebutuhan domestik sehingga tekanan terhadap biaya produksi petani tidak terlalu signifikan.
Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga pangan di tengah berbagai tantangan global yang masih berlangsung.
Inflasi Diproyeksikan Naik, Namun Tetap Sesuai Target
BI memperkirakan inflasi nasional akan menunjukkan tren peningkatan dibandingkan periode sebelumnya.
Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, mulai dari penyesuaian harga energi hingga potensi tekanan pada sektor pangan.
Meski demikian, bank sentral optimistis inflasi masih akan bergerak dalam rentang sasaran yang telah ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen.
Dengan demikian, batas atas target inflasi nasional masih berada di level 3,5 persen.
Untuk memastikan inflasi tetap terkendali, BI terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat maupun daerah melalui berbagai program pengendalian harga, termasuk penguatan pasokan pangan, operasi pasar, serta pemantauan distribusi komoditas strategis.
Bank Indonesia menegaskan bahwa berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung.
