Embung Kebagusan Seluas 2 Hektare Ditargetkan Rampung Akhir 2026, DKI Siapkan Anggaran Rp200 Miliar!
HAIJAKARTA.ID- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat upaya pengendalian banjir melalui pembangunan infrastruktur penampungan air.
Salah satu proyek yang tengah dikerjakan adalah Embung Kebagusan di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, yang ditargetkan rampung pada akhir 2026.
Embung yang dibangun di atas lahan seluas sekitar dua hektare ini diharapkan dapat membantu mengurangi risiko genangan, terutama ketika curah hujan tinggi melanda wilayah Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meninjau langsung progres pembangunan Embung Kebagusan pada Selasa (13/10/2026).
Proyek tersebut menjadi bagian dari upaya Pemprov DKI dalam menangani banjir secara menyeluruh melalui pembangunan embung, waduk, serta normalisasi sungai.
Berdasarkan informasi yang disampaikan Pemprov DKI Jakarta, Embung Kebagusan dirancang untuk mengurangi debit air yang mengalir melalui sistem Saluran Penghubung (Phb) Joe.
Infrastruktur ini diharapkan membantu mengendalikan aliran air dari daerah aliran sungai (DAS) Mampang dan Krukut sehingga potensi genangan di kawasan sekitarnya dapat ditekan.
Anggaran Pembebasan Lahan Capai Rp200 Miliar
Pembangunan Embung Kebagusan membutuhkan anggaran yang cukup besar. Berdasarkan keterangan Pramono Anung, dana untuk pembebasan lahan mencapai sekitar Rp200 miliar, sedangkan anggaran pembangunan fisik embung mencapai lebih dari Rp50 miliar.
Dalam rincian Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta, biaya pembangunan fisik proyek tersebut tercatat sekitar Rp54 miliar.
Dengan demikian, anggaran pembebasan lahan dan konstruksi merupakan dua komponen pembiayaan yang berbeda.
Besarnya anggaran tersebut mencerminkan kebutuhan penyediaan lahan dan pembangunan infrastruktur yang dirancang untuk mendukung sistem pengendalian banjir di Jakarta Selatan.
Pemprov DKI berharap keberadaan embung ini dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang, terutama untuk mengurangi tekanan debit air ketika hujan deras mengguyur kawasan Pasar Minggu dan wilayah yang terhubung dengan sistem aliran Krukut-Mampang.
Ditargetkan Rampung Akhir 2026
Pembangunan Embung Kebagusan ditargetkan selesai pada akhir Desember 2026. Target tersebut disampaikan dalam peninjauan proyek oleh Gubernur DKI Jakarta pada 13 Oktober 2026.
Embung ini memiliki luas lahan sekitar dua hektare yang mencakup beberapa area dengan fungsi berbeda.
Berdasarkan data Pemprov DKI Jakarta, kawasan tersebut terdiri atas area tampungan air seluas sekitar 0,8 hektare, ruang terbuka hijau sekitar 0,7 hektare, serta area fasilitas publik sekitar 0,5 hektare.
Selain kolam penampungan air, pembangunan juga dilengkapi dengan tanggul yang dirancang untuk mendukung fungsi pengendalian air.
Infrastruktur tersebut diharapkan mampu menampung limpasan air hujan sekaligus membantu mengatur alirannya agar tidak langsung membebani saluran di sekitarnya.
Namun, penyelesaian konstruksi pada akhir 2026 perlu dibedakan dari waktu mulai beroperasinya fasilitas secara optimal.
Manfaat embung terhadap pengurangan banjir akan bergantung pada kesiapan infrastruktur dan keterhubungannya dengan sistem drainase lainnya.
Diharapkan Kurangi Debit Banjir Sistem Krukut-Mampang
Pramono Anung menyampaikan bahwa pembangunan embung, bersama infrastruktur pengendalian banjir lainnya dan normalisasi sungai, diharapkan mampu menekan debit air pada sistem tata air Krukut-Mampang.
Secara teoretis, penanganan banjir di kawasan DAS Mampang dan Krukut diharapkan dapat menahan atau mereduksi air hingga sekitar delapan persen.
Angka tersebut merupakan perkiraan untuk sistem penanganan yang lebih luas, bukan berarti Embung Kebagusan secara mandiri mengurangi seluruh banjir Jakarta sebesar delapan persen.
Karena itu, pembangunan embung perlu berjalan beriringan dengan upaya lain, termasuk peningkatan kapasitas saluran, pemeliharaan drainase, serta normalisasi sungai di titik-titik yang membutuhkan penanganan.
Pemprov DKI Jakarta juga tengah menyiapkan penanganan banjir melalui pembangunan dan penguatan infrastruktur di sejumlah lokasi, termasuk normalisasi Sungai Ciliwung, Krukut, dan Cakung.
