Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID – Pemprov DKI membuka peluang kerja guna mengurangi aktivitas mengemis menjadi langkah konkret dalam membrikan alternatif mata penvaharian bagi warga. Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi adanya praktik mengemis dan manusia gerobak di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menegaskan pemerintah tidak hanya melakukan penertiban di lapangan, tetapi juga menghadirkan solusi melalui peluasan akses kerja.

Salah satu terobosan yang dilakukan adalah melonggarkan syarat pendidikan bagi petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau pasukan oranye.

“Sebagai pemerintah, kamu tentunya ingin semua orang di Jakarta mempunyai kesempatan untuk bekerja. Misalnya PJLP, yang dulu syaratnya untuk pasukan oranye itu SMA, sekarang syaratnya SD saja cukup,” ucapnya Rabu (4/3/2026).

Pemprov DKI Buka Peluang Kerja Guna Kurangi Aktivitas Mengemis, Syarat Pendidikan Dilonggarkan

Sebelumnya, persyaratan pendidikan untuk bergabung sebagai Penyedia Jasa Lainnya (PJLP) termasuk PPSU minimal lulusan SMA. Kini, warga dengan latar belakang pendidikan Sekolah Dasar (SD) telah memiliki kesempatan yang sama untuk mendaftar.

Langkah ini dinilai sebagai upaya inklusif agar masyarakat dengan keterbatasan pendidikan formal tetap memiliki peluang memperoleh pekerjaan yang layak dan penghasilan tetap.

Pramono menyampaikan bahwa kebijakan tersebut telah menjadi trobosan Pemprov DKI dalam memastikan setiap warga memiliki akses terhadap lapangan kerja, sehingga tidak bergantung pada aktivitas mengemis di jalanan.

“Itu salah satu terobosan yang kami lakukan,” ungkap Pramono.

Di sisi lain, Pemprov DKI tetap meminta jajaran Satpol PP untuk menertibkan pengemis dan manusia gerobak yang kerap muncul, terutama saat Ramadhan dan menjelang Lebaran. Namun, penindakan diminta dilakukan secara tegas sekaligus humanis.

“Kebetulan hari ini juga dilantik fungsional Satpol PP, yang mayoritas kami akan meminta mereka untuk mengambil tindakan tegas terhadap para pengemis yang ada di Jakarta. Karena itu tidak mencerminkan sebagai kota global,” ujarnya.