Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Industri Kecil hingga Manufaktur Jawa Timur Tertekan!
HAIJAKARTA.ID- Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan dampak nyata bagi sektor industri di berbagai daerah.
Di Jawa Timur, pelaku industri kecil menengah (IKM) hingga perusahaan manufaktur skala besar menghadapi tekanan akibat meningkatnya biaya produksi di tengah melemahnya daya beli masyarakat.
Kurs rupiah pada perdagangan Jumat (5/6/2026) malam tercatat menyentuh level sekitar Rp18.036 per dolar AS, menandai salah satu titik terlemah mata uang Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, terutama industri yang masih bergantung pada bahan baku impor maupun komponen produksi yang dibeli menggunakan mata uang asing.
Industri Logam Sidoarjo Merasakan Dampak Langsung
Salah satu kawasan yang terdampak adalah sentra industri logam di Desa Ngingas, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.
Kawasan ini dikenal sebagai pusat produksi berbagai komponen logam dengan lebih dari 200 unit usaha yang bergerak di bidang manufaktur dan permesinan.
Produk yang dihasilkan cukup beragam, mulai dari suku cadang otomotif, peralatan elektronik, perlengkapan bangunan, peralatan dapur hingga alat pertanian modern.
Ribuan pekerja menggantungkan mata pencahariannya pada aktivitas industri di kawasan tersebut.
Pelemahan rupiah menyebabkan biaya pembelian bahan baku dan komponen impor meningkat.
Akibatnya, margin keuntungan pelaku usaha semakin tergerus karena tidak semua kenaikan biaya dapat langsung dibebankan kepada konsumen.
Daya Beli Masyarakat Ikut Melemah
Selain menghadapi kenaikan biaya produksi, pelaku industri juga dihadapkan pada tantangan lain berupa penurunan daya beli masyarakat.
Kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih membuat konsumen cenderung menahan pengeluaran, terutama untuk produk non-primer.
Situasi ini menciptakan tekanan ganda bagi sektor industri. Di satu sisi biaya produksi meningkat akibat depresiasi rupiah, sementara di sisi lain permintaan pasar tidak tumbuh signifikan.
Pelaku usaha menilai kondisi tersebut dapat menghambat ekspansi bisnis, mengurangi kapasitas produksi, bahkan berpotensi memengaruhi penyerapan tenaga kerja apabila berlangsung dalam jangka panjang.
Industri Manufaktur Hadapi Tantangan Berat
Sektor manufaktur menjadi salah satu yang paling rentan terhadap gejolak nilai tukar karena banyak perusahaan masih mengandalkan bahan baku, mesin, maupun komponen impor.
Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis naik. Jika perusahaan tidak mampu menyesuaikan harga jual karena lemahnya permintaan, maka keuntungan perusahaan dapat menyusut dan berdampak pada operasional usaha.
Beberapa kalangan industri juga mengkhawatirkan kenaikan biaya energi dan logistik yang berpotensi memperberat beban produksi di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Perlunya Stabilitas Ekonomi
Pengamat ekonomi menilai stabilitas nilai tukar menjadi faktor penting untuk menjaga keberlangsungan sektor industri nasional.
Rupiah yang terlalu lemah dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan daya saing industri dalam negeri.
Di sisi lain, pemerintah dan otoritas moneter diharapkan terus menjaga stabilitas pasar keuangan serta memperkuat sektor riil agar pelaku usaha tetap mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal.
Meski pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor berorientasi ekspor, manfaat tersebut belum tentu dirasakan secara merata oleh seluruh pelaku usaha, terutama industri kecil dan menengah yang lebih banyak melayani pasar domestik.
