Follow WhatsApp Channel Haijakarta.id
Follow

HAIJAKARTA.ID- Wacana pelibatan kantin sekolah dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mendapat dukungan dari Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini.

Menurutnya, pengelolaan makanan bergizi oleh sekolah dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pelayanan sekaligus memperkuat pengawasan terhadap keamanan pangan bagi para siswa.

Yahya menilai sekolah memiliki kedekatan langsung dengan peserta didik sehingga lebih memahami kebutuhan di lapangan.

Dengan keterlibatan pihak sekolah, proses penyediaan makanan bergizi diyakini dapat berlangsung lebih efektif, efisien, serta meminimalkan potensi terjadinya kasus keracunan makanan.

Tidak Semua Sekolah Harus Dipaksakan

Meski mendukung gagasan tersebut, Yahya menegaskan bahwa penerapannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing sekolah.

Pemerintah, menurutnya, harus melakukan pemetaan untuk mengetahui sekolah mana yang telah memiliki sarana dan prasarana memadai, seperti dapur, ruang pengolahan makanan, hingga fasilitas penyimpanan bahan pangan.

Sekolah yang memiliki kesiapan dapat diberi kesempatan mengelola program MBG secara mandiri.

Sebaliknya, sekolah yang belum memiliki fasilitas memadai tidak seharusnya dipaksakan menjalankan skema tersebut karena dikhawatirkan justru mengganggu efektivitas program.

Biaya Operasional Dinilai Lebih Efisien

Selain aspek kesiapan infrastruktur, Yahya juga menyoroti pentingnya pembahasan mengenai skema pembiayaan apabila dapur dikelola langsung oleh sekolah.

Ia berpendapat bahwa biaya investasi maupun operasional dapur sekolah berpotensi lebih rendah dibandingkan dapur yang dikelola lembaga atau yayasan mitra.

Karena itu, pemerintah perlu menyusun mekanisme pendanaan yang sesuai agar penggunaan anggaran tetap efisien tanpa mengurangi kualitas makanan yang diberikan kepada siswa.

Menurutnya, efisiensi anggaran menjadi salah satu keuntungan apabila sekolah dapat diberdayakan sebagai pelaksana program.

Pengawasan Orang Tua Dinilai Lebih Optimal

Yahya juga menilai pelibatan sekolah akan membuka ruang partisipasi yang lebih besar bagi orang tua siswa.

Dengan pengelolaan yang berada di lingkungan sekolah, orang tua dapat ikut memantau kualitas bahan makanan, proses pengolahan, hingga distribusi makanan kepada anak-anak mereka.

Pengawasan berlapis dari pihak sekolah, guru, orang tua, serta pemerintah diyakini mampu meningkatkan standar keamanan pangan dan menekan risiko keracunan makanan yang sempat terjadi di sejumlah daerah sejak pelaksanaan program MBG dimulai.

Menurutnya, jumlah penerima manfaat di masing-masing sekolah yang relatif terbatas juga akan mempermudah proses kontrol kualitas dibandingkan sistem yang melayani wilayah lebih luas.

Usulkan Program Diprioritaskan untuk Siswa Kurang Mampu

Dalam kesempatan tersebut, Yahya juga mengusulkan agar pemerintah melakukan penajaman sasaran penerima manfaat Program Makan Bergizi Gratis.

Ia berpandangan bahwa program sebaiknya lebih difokuskan kepada sekolah-sekolah yang mayoritas siswanya berasal dari keluarga kurang mampu, khususnya sekolah negeri.

Dengan demikian, anggaran negara dapat dimanfaatkan secara lebih tepat sasaran dan memberikan dampak sosial yang lebih besar.

Sementara itu, sekolah swasta yang sebagian besar peserta didiknya berasal dari keluarga mampu dinilai tidak menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program apabila pemerintah menerapkan kebijakan refocusing penerima manfaat.

Sejalan dengan Arahan Presiden

Wacana pelibatan kantin sekolah muncul setelah Presiden Prabowo Subianto memberikan sinyal agar opsi tersebut dikaji lebih lanjut sebagai bagian dari penyempurnaan Program Makan Bergizi Gratis.

Pemerintah sebelumnya juga telah meminta kementerian terkait bersama Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, terutama setelah muncul sejumlah kasus keracunan makanan di beberapa wilayah.

Evaluasi tersebut mencakup standar keamanan pangan, sistem distribusi, pengawasan dapur, hingga tata kelola penyedia makanan.

Komisi IX DPR pun menyatakan siap mengawal proses evaluasi agar program unggulan pemerintah tersebut tetap berjalan efektif, aman, dan mampu meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia.

Evaluasi Program Terus Dilakukan

Sejumlah pihak menilai bahwa evaluasi menyeluruh terhadap Program Makan Bergizi Gratis menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan program.

Selain peningkatan kualitas makanan, aspek kebersihan dapur, pelatihan petugas, standar sanitasi, hingga pengawasan distribusi menjadi perhatian utama pemerintah.

Pelibatan sekolah dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk memperkuat sistem pengawasan karena pihak sekolah memiliki hubungan langsung dengan siswa dan orang tua sehingga proses evaluasi maupun penanganan apabila terjadi kendala dapat dilakukan lebih cepat.

Dengan perbaikan tata kelola yang berkelanjutan, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu memberikan manfaat maksimal dalam meningkatkan kesehatan, kualitas gizi, serta mendukung tumbuh kembang peserta didik di seluruh Indonesia.