Profil Tiyo Ardianto, Lulusan Paket C yang Kini Memimpin BEM UGM dan Jadi Sorotan Nasional!
HAIJAKARTA.ID- Nama Tiyo Ardianto belakangan menjadi perhatian publik setelah sejumlah pernyataan kritisnya terhadap kebijakan pemerintah ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial maupun forum publik.
Mahasiswa Program Studi Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) angkatan 2021 tersebut saat ini menjabat sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) UGM periode 2025–2026.
Sosoknya tidak hanya dikenal karena aktivitas advokasinya dalam berbagai isu sosial dan pendidikan, tetapi juga karena latar belakang pendidikannya yang berbeda dari kebanyakan mahasiswa perguruan tinggi ternama.
Tiyo merupakan lulusan pendidikan kesetaraan Paket C yang menempuh proses belajar melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.
Perjalanan akademiknya menjadi bukti bahwa pendidikan nonformal dapat menjadi jalan alternatif yang mampu mengantarkan peserta didik menuju prestasi dan kepemimpinan di tingkat nasional.
Berasal dari Jalur Pendidikan Nonformal
Di tengah berbagai stereotip yang masih melekat terhadap lulusan pendidikan kesetaraan, Tiyo menunjukkan bahwa kualitas seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh jalur pendidikan formal yang ditempuh.
PKBM Omah Dongeng Marwah yang menjadi tempatnya belajar dikenal mengembangkan metode pendidikan berbasis cerita dan kreativitas.
Pendekatan tersebut bertujuan membantu peserta didik memahami materi sekaligus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, imajinasi, dan nilai-nilai kehidupan.
Latar belakang pendidikan tersebut sempat menjadi sorotan publik setelah Tiyo aktif menyampaikan kritik terhadap sejumlah kebijakan pemerintah.
Namun, berbagai komentar yang mempertanyakan kapasitasnya justru dijawab melalui rekam jejak akademik dan organisasi yang ia bangun selama menempuh pendidikan tinggi.
Perjalanan Menuju Universitas Gadjah Mada
Perjalanan Tiyo untuk menjadi mahasiswa UGM tidak berlangsung secara instan. Ia pernah mengalami kegagalan saat mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi pada beberapa kesempatan.
Meski demikian, kegagalan tersebut tidak membuatnya menyerah. Melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2021, ia berhasil diterima di Program Studi Filsafat UGM, yang merupakan pilihan jurusan utamanya.
Keberhasilannya menembus salah satu perguruan tinggi terbaik di Indonesia menjadi pencapaian penting sekaligus membuktikan bahwa lulusan pendidikan kesetaraan memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing di dunia akademik.
Aktif di Dunia Sastra dan Kepenulisan
Selain aktif dalam organisasi kemahasiswaan, Tiyo juga dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap dunia sastra.
Sejumlah prestasi yang pernah diraihnya antara lain menjadi peserta Pertemuan Penyair Nusantara tingkat internasional, meraih Juara II Nasional Monolog Bahasa Jawa yang diselenggarakan Universitas Negeri Semarang (UNNES), serta Juara I Nasional Lomba Baca Puisi Inspiratif Penegak Kelangga.
Karya-karyanya juga pernah diterbitkan dalam sejumlah antologi bersama tokoh sastra nasional, termasuk penyair senior D. Zawawi Imron dan budayawan KH Ahmad Musthofa Bisri atau Gus Mus.
Pengalaman di bidang sastra tersebut dinilai turut membentuk kemampuan komunikasi dan daya kritis yang kini menjadi ciri khasnya dalam menyampaikan gagasan kepada publik.
Sorotan Publik dan Kritik terhadap Kebijakan Negara
Nama Tiyo semakin dikenal luas setelah dirinya bersama BEM UGM aktif menyoroti berbagai persoalan sosial yang dianggap berdampak terhadap masyarakat, khususnya kalangan anak-anak dan pelajar.
Salah satu isu yang mendapat perhatian adalah kasus meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang diduga mengalami tekanan akibat keterbatasan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sekolah.
Menanggapi peristiwa tersebut, Tiyo menilai bahwa negara perlu memberikan perhatian lebih serius terhadap pemenuhan hak-hak dasar anak, termasuk akses pendidikan yang layak.
Sebagai bentuk kepedulian, ia mengirimkan surat kepada UNICEF guna meminta perhatian terhadap kondisi pemenuhan hak anak di Indonesia. Langkah tersebut memicu beragam respons dari masyarakat, mulai dari dukungan hingga kritik.
Selain itu, Tiyo juga beberapa kali menyampaikan pandangan kritis terkait efektivitas sejumlah program pemerintah dan penggunaan anggaran negara yang menurutnya perlu dievaluasi agar lebih tepat sasaran.
Menghadapi Tekanan dan Intimidasi
Aktivitas advokasi yang dilakukan Tiyo tidak lepas dari berbagai tantangan. Dalam beberapa kesempatan, ia mengaku menerima intimidasi digital, peretasan akun, hingga ancaman yang muncul setelah menyuarakan kritik terhadap kebijakan publik.
Meski demikian, mahasiswa asal Kudus tersebut tetap aktif hadir dalam berbagai diskusi publik, seminar, podcast, dan forum nasional untuk menyampaikan pandangannya mengenai isu-isu sosial, pendidikan, serta demokrasi.
Bagi banyak kalangan, perjalanan Tiyo Ardianto menjadi contoh bahwa latar belakang pendidikan bukanlah penghalang untuk berprestasi dan berkontribusi bagi masyarakat.
Kisahnya menunjukkan bahwa kesempatan belajar dapat hadir melalui berbagai jalur, selama disertai dengan kemauan, kerja keras, dan komitmen untuk terus berkembang.
