Harga Pertamax Naik, Apakah Mobil Bisa Langsung Beralih ke Pertalite? Ini Penjelasan Ahli
HAIJAKARTA.ID- Kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter mulai memengaruhi keputusan sebagian pemilik kendaraan.
Selisih harga yang cukup besar dibandingkan Pertalite yang masih dibanderol Rp10.000 per liter membuat banyak pengguna kendaraan mempertimbangkan untuk beralih ke bahan bakar dengan oktan lebih rendah guna menghemat pengeluaran.
Namun, para ahli mengingatkan bahwa keputusan tersebut tidak boleh dilakukan secara sembarangan, terutama bagi kendaraan yang sejak awal dirancang menggunakan bahan bakar dengan nilai oktan atau Research Octane Number (RON) minimal 92.
Penggunaan BBM Oktan Rendah Berisiko Menimbulkan Detonasi
Pakar Konservasi Energi dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yuswidjajanto Zaenuri, menjelaskan bahwa penggunaan bahan bakar dengan angka oktan di bawah spesifikasi mesin dapat memicu terjadinya detonasi atau knocking yang dalam istilah umum dikenal sebagai mesin “ngelitik”.
Menurut Tri, kondisi tersebut terjadi ketika campuran udara dan bahan bakar terbakar lebih cepat sebelum percikan api dari busi bekerja sebagaimana mestinya.
Akibatnya, proses pembakaran tidak berlangsung sesuai desain mesin yang telah ditentukan oleh pabrikan.
“Jika bahan bakar memiliki ketahanan terhadap detonasi yang lebih rendah dari kebutuhan mesin, pembakaran dapat terjadi lebih awal dan menimbulkan gejala knocking,” jelasnya.
Suhu dan Tekanan Mesin Bisa Meningkat
Detonasi yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan peningkatan suhu dan tekanan di ruang bakar secara tidak merata. Kondisi ini berpotensi menciptakan titik panas pada sejumlah komponen mesin.
Ketika suhu ruang bakar meningkat secara berlebihan, risiko kerusakan komponen menjadi lebih besar. Selain memengaruhi efisiensi pembakaran, fenomena tersebut juga dapat mempercepat keausan berbagai bagian penting pada mesin kendaraan.
Piston Menjadi Komponen yang Paling Rentan
Salah satu komponen yang paling berisiko mengalami kerusakan akibat penggunaan bahan bakar beroktan rendah adalah piston.
Komponen ini umumnya dibuat dari material aluminium yang memiliki titik leleh lebih rendah dibandingkan beberapa komponen mesin lainnya.
Paparan suhu tinggi secara berulang dapat menyebabkan piston mengalami tekanan termal berlebihan.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat mempercepat kerusakan mesin dan berpotensi menimbulkan biaya perbaikan yang tidak sedikit.
Mobil Modern Memiliki Knock Sensor, Tetapi Ada Konsekuensinya
Pada kendaraan modern, pabrikan telah membekali mesin dengan teknologi knock sensor yang berfungsi mendeteksi gejala detonasi.
Sistem ini akan menyesuaikan waktu pengapian secara otomatis agar pembakaran tetap berlangsung aman dan tidak merusak mesin.
Meski demikian, penyesuaian tersebut biasanya berdampak pada performa kendaraan. Mesin memang tetap dapat beroperasi, tetapi tenaga yang dihasilkan cenderung berkurang dan efisiensi pembakaran menjadi tidak optimal.
Dengan kata lain, penggunaan Pertalite pada kendaraan yang direkomendasikan memakai Pertamax mungkin masih memungkinkan dalam kondisi tertentu, namun performa kendaraan tidak akan sebaik saat menggunakan bahan bakar sesuai spesifikasi.
Ikuti Rekomendasi Pabrikan
Para ahli menegaskan bahwa pemilik kendaraan sebaiknya tetap mengikuti rekomendasi bahan bakar yang tercantum dalam buku manual maupun spesifikasi pabrikan.
Penghematan biaya bahan bakar dalam jangka pendek dinilai tidak sebanding dengan potensi penurunan performa dan risiko kerusakan mesin yang dapat muncul di kemudian hari.
Penggunaan BBM dengan nilai oktan yang sesuai tidak hanya menjaga performa kendaraan tetap optimal, tetapi juga membantu mempertahankan umur pakai mesin agar lebih panjang dan efisien.
Pertamax vs Pertalite: Mana yang Sesuai?
Secara umum, Pertamax memiliki angka oktan RON 92 yang direkomendasikan untuk kendaraan dengan teknologi mesin modern dan rasio kompresi lebih tinggi.
Sementara itu, Pertalite memiliki RON 90 yang lebih cocok digunakan pada kendaraan dengan kebutuhan oktan yang lebih rendah.
Karena itu, sebelum memutuskan beralih jenis bahan bakar akibat kenaikan harga BBM, pemilik kendaraan disarankan memeriksa terlebih dahulu spesifikasi mesin yang direkomendasikan oleh pabrikan.
